Rambut Indah Tak Hanya di Kepala
Ungkapan itu memang dapat diartikan banyak makna. Namun sejauh ini hanyalah kesan pribadi saya mengingat betapa disiplinnya teman-teman misdinar saat itu. Khususnya teman-teman putri. Disiplin diri dan kelompok saat remaja (saat bertugas) membuat kami juga tidak sombong atau angkuh melihat diri kami sendiri.
Menjadi suatu ketentuan tidak tertulis bahwa jika misdinar putri bertugas misa harian, mingguan, maupun misa hari raya, jika berambut panjang maka harus diikat sehingga rapi. Bertugas bukan menjadi sarana untuk “bergaya”. Ketentuan itu juga berlaku jika misdinar putra juga berambut panjang mengingat pada jaman saya juga banyak yang seperti itu. Komitmen itu sangat bisa dipahami mengingat posisi misdinar pada saat misa adalah sentral (di altar) sehingga menjadi perhatian sehingga niat untuk tidak mencolok pada saat bertugas adalah niat yang baik. Begitulah semestinya semangat “melayani” diejawantahkan dalam setiap sikap selama bertugas.
Demikian kami belajar melayani, bukan menonjolkan penampakan fisik kami , tapi belajar apa adanya. (han)
Tulisan diambil dari http://iman-picisan.blogspot.com/
Dolanane Cah Misdinar - Delik'an
Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi "kucing" (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di Jakarta ada yang menyebutnya INGLO, di daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG, sedangkan di Jogja sering disebut PONG)). Setelah hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si "kucing" beraksi mencari teman-temannya tersebut.
Jika si "kucing" menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO atau BON atau HONG atau PONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si "kucing" dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Apabila Yang seru adalah, pada saat si "kucing" bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai "target operasi" atau belum ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG atau PONG, jika berhasil menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si "kucing" dibebaskan, alias sandera si "kucing" dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si "kucing" harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.
Dolanane Cah Misdinar - Gobak Sodor
Inilah permainan yang sering dimainkan anak-anak Misdinar Baciro kalau sedang acara bebas di hari rabu. Dolanan yang sekarang (mungkin) dianggap ndeso, tapi tetep asyik buat dimainin. Beginilah penjelasan tentang Gobak Sodor ala mbah Wikipedia.org
Gobak Sodor atau di daerah lain disebut Galah Asin / Galasin (kata Ipin dan Upin) adalah sejenis permainan daerah dari Indonesia. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.
Ini sumbernya.
Misdinar Baciro Yogya

Misdinar Baciro adalah sebuah tim kerja dalam Gereja Kristus Raja Paroki Baciro Yogyakarta. Tim kerja ini telah terbentuk sejak tahun 1964. Misdinar Baciro merupakan wadah pembinaan iman anak-anak terkhusus dalam hal Pelayanan. Blog ini dibuat untuk menghubungkan alumni Misdinar Baciro dengan anggota aktif maupun dengan sesama alumni sendiri dan juga pihak-pihak yang berhubungan dengan tim kerja ini. Semoga media komunikasi ini dapat benar-benar bermanfaat bagi siapa saja. Amin.
Tuhan Memberkati!
Popular Posts
-
Sejarah Paroki Gereja Kristus Raja Baciro
-
Tarcisius Cup Antar Misdinar se-Kevikepan DIY
-
Hasil Rapat Reuni Akbar Misdinar Baciro [1&2]
-
Tarcisius Cup XIII Kelor 2016
-
Perubahan Tampilan Blog
-
Susunan Pengurus Periode 2015-2017
-
Susunan Pengurus Periode 2011-2013
-
Galeri Tugas Paskah
-
Rekoleksi Menurutku Misdinar Itu
-
Pesta Nama dan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2009-2011
